Kampung Boneka Bandung Ingin Bangkit Kembali

18 Februari 2015 1:16

2 0

DI tengah gempuran pasar global, sentra industri di Kota Bandung ini masih bertahan. Meski masa keemasan itu semakin pudar, sejumlah perajin boneka di Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Sukajadi ini tetap memproduksi mainan anak-anak itu.

Asa itu datang dari Robby U Awaludin. Sebagai generasi kedua perajin boneka toko Pidua Sepuh, dia mengetahui betul jika industri Kampung Boneka ini sudah tidak dalam masa jayanya.

Kini, jumlah perajin yang berada di Kampung Babakan Caringin RT 4/4 pun menyusut. Pada era 1990-2005, jumlah perajin boneka mencapai ratusan. Saat itu, hampir semua warga yang berada di Jalan Sukamulya memilih berprofesi sebagai perajin. Bahkan, di tiap rumah di sana disulap menjadi gerai.

"Kalo dihitung-hitung, sekarang jumlah perajin hanya 20 orang. Itu hanya berada di RT 4 dan 5 saja. Mereka, termasuk saya hanya segelintir orang yang mampu bertahan," kata Robby kepada INILAH.

Sebagai industri rumahan, kata dia, sebenarnya permodalan bukanlah hambatan utama. Sebab, usaha turun-menurun itu kini sudah lepas dari peminjam modal.

Beberapa tahun ke belakang, lanjutnya, mayoritas perajin didukung modal tanpa bunga dari Pupuk Kujang. Dikarenakan kini badan usaha milik negara (BUMN) itu fokus membantu sektor pertanian, maka permodalan untuk UKM pun disetop dulu.

Pemasaran. Ini yang menjadi hambatan bangkitnya kembali Kampung Boneka Bandung. Tak hanya memikirkan pasokan bahan dan model boneka, semua perajin harus memutar otak bagaimana produk buatannya laris di pasaran. Lembaga koperasi boneka pun kini tak beroperasi.

"Memang, selama ini masih ada saja orang yang datang langsung ke sini untuk membeli. Tapi, agar tetap hidup usahanya, perajin banyak yang bekerjasama dengan pihak kantor atau hotel untuk dibuatkan boneka," ucapnya yang saat itu ditemani istri tercinta.

Cara lain, pemasaran dijalankan dengan mem-follow up para langganan lama. Dengan kedekatan emosi, pesanan terkadang didapatkan dari database itu. Order by phone pun tak sedikit menghasilkan pundi-pundi keuntungan. Bahkan, dia mengakui ada pelanggan dari Bangka Belitung yang bekerja sama selama 10 tahun hingga kini belum pernah bertatap muka.

Pada masa jayanya dulu, produk Kampung Boneka Bandung ini dipasarkan hingga seluruh penjuru Nusantara. Namun, daerah tujuan pemasaran itu kondisinya sekarang berkurang.

Paling jauh, pesanan didapatkan dari Papua. Selain Jawa, produk boneka berbagai ukuran ini pun merambah hingga Sumatera, Batam, Bangka Belitung, hingga Kalimantan yang diakuinya sebagai pasar terbesar.

Hambatan lain pun datang dari sertifikasi dan legalisasi. Wacana pencantuman Standar Nasional Indonesia (SNI) pun mengemuka dan menjadi bahan perbincangan serius para perajin. Untuk mendapatkan sertifikat layak jual dari dinas terkait, setiap produsen harus membayar ongkos hingga Rp10 juta. Besaran uang itu belum ditambah perpanjangan izin per enam bulan.

"Belum lagi ongkos yang harus dibayarkan untuk tes lab. Kita sebagai industri rumahan mengaku tak mampu. Tapi, kita pun nggan digratiskan. Kalau mau, antara pemerintah dan pelaku bisnis ini bisa menaggung 50-50," jelasnya.

Mengenai omset, dalam kondisi bertahan seperti ini setiap produsen hanya mampu membukukan Rp20-30 juta/bulan. Raihan itu jauh dari sebelumnya. Pada masa emasnya, seorang produsen boneka itu dalam setahun bisa membeli dua unit kendaraan sebagai hasilnya.

Saat ditanya mengenai bahan baku, Robby mengaku ketersediaannya aman dan melimpah. Material pembuatan boneka itu dipasok dari Bekasi. Untuk bahan baku boneka, pasokan impor diakuinya tidak layak.

Sebagai pelapis luar, bahan yang dipakai yaitu jenis raspur yang dibeli seharga Rp40 ribu/yard. Selain itu, bahan yang digunakan jenis felboa yang dibanderol Rp30 ribu/yard. Sedangkan, boneka itu diisi menggunakan kapas silikon yang bahannya dibeli seharga Rp30 ribu/kg.

Dengan bahan baku tersebut, dia menjual boneka beraneka ukuran dengan kisaran harga Rp25-350 ribu/buah. Bahkan, ada boneka custom yang dibuat hingga berukuran 2 m yang dibanderol Rp2 juta.(jul)

Sumber: inilahkoran.com

Untuk kategori halaman

Loading...