Receive up-to-the-minute news updates on the hottest topics with NewsHub. Install now.

Fakta Seputar Tol Jembatan Suramadu yang Ternyata Sudah Direncanakan Sejak Orde Lama

09 November 2018 4:09
11 0
Fakta Seputar Tol Jembatan Suramadu yang Ternyata Sudah Direncanakan Sejak Orde Lama

Tol Jembatan Suramadu digratiskan bagi seluruh pengguna kendaraan yang melewatinya dan beralih menjadi non-tol. Berikut adalah fakta yang meliputinya

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA- Tol Suramadu'>Jembatan Suramadu yang menghubungkan wilayah Surabaya dan Madura sejak Sabtu (27/10/2018) lalu dibuka gratis.

Ditujukan untuk menumbuhkan ekonomi di Madura agar lebih baik, Tol Suramadu'>Jembatan Suramadu digratiskan bagi seluruh pengguna kendaraan yang melewatinya.

Kehadiran Tol Suramadu'>Jembatan Suramadu diharapkan dapat menunjang ekonomi di segi properti, pariwisata, dan sebagainya.

Namun, belum banyak yang tahu ada sejumlah fakta dibalik Tol Suramadu'>Jembatan Suramadu, berikut ini daftarnya.

Berdasarkan perkiraan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), tol jembatan ini telah dilengkapi dengan Sistem Pemantauan Ketahanan Struktur (SHMS) jembatan. Berdasarkan pernyataan dari Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto penggunaan sistem ini dapat membantu dalam pelaksanaan pemeliharaan dan perbaikan jalan tol.

Sistem monitoring ini tidak hany berguna dalam pemeliharaan, akan tetapi juga informasi mengenai kepadatan lalu lintas, tiupan angin diatas jembatan, gempa bumi, dan curah hujan.

Setidaknya terdapat 514 sensor yang digunakan disepanjang Tol Suramadu'>Jembatan Suramadu.

Presiden Jokowi meresmikan pengalihan Tol Suramadu'>Jembatan Suramadu menjadi gratis bagi setiap pengguna kendaraan menjadi non tol.

Hal ini menurutnya agar dapat mempercepat perekonomian di daerah Madura terutama di bidang properti dan pariwisata.

Sebelumnya, per tahun Suramadu'>Jembatan Suramadu bisa memberi pemasukan hingga Rp 120 miliar.

Namun, sekitar 7-10 persen dari pemasukan digunakan untuk biaya perawatan jembatan.

Gagasan pembangunan Suramadu'>Jembatan Suramadu pertama kali disampaikan Prof. Dr. Ir. Sedyatmo pada 1960.

Bahkan sudah dibentuk tim berkolaborasi dengan Jepang, tetapi proyek tersebut berhenti karena krisis ekonomi tahun 1997.

Sumber: tribunnews.com

Berbagi di jaringan sosial:

Komentar - 0