Receive up-to-the-minute news updates on the hottest topics with NewsHub. Install now.

Dimulai dari Membaca Ulang Kitab Suci

14 Maret 2015 19:04
9 0

PROFESOR Jaques Berque di awal 1990-an pernah menerbitkan diktat yang digunakannya sebagai bahan kuliah di depan mahasiswanya di Paris yang diberi judul: Relire le Coran at le Bible. Intinya perlu membaca ulang Al-Qur'an dan Alkitab untuk menciptakan kedamaian abadi di kedua komunitas kitab suci ini.

Al-Qur'an dan Alkitab masing-masing mempunyai klaim kebenaran yang berbeda satu sama lain. Padahal, kedua kitab suci ini bersumber dari Tuhan yang sama dan komunitas yang sama, yaitu anak-anak cucu Nabi Ibrahim, penganut monoteisme (Abrahamic religion), bahkan kitab sucinya pun menggunakan rumpun bahasa yang sama, yaitu rumpun bahasa Semit (Semitic language).

Gagasan dan pesan Berque tetap relevan, paling tidak menurut Tonny Blair, mantan PM Inggris, juga pernah mengungkapkan bahwa perdamaian abadi kedua komunitas Al-Qur'an dan Alkitab akan memberikan kontribusi terhadap perdamaian dunia dan sebaliknya konflik antara keduanya juga akan memberikan kontribusi desintergrasi kemanusiaan global, mengingat kedua komunitas ini masih tercatat sebagai agama terbesar dunia.

Gagasan kedua tokoh ini mengisyaratkan betapa perlunya komunitas ini membaca ulang kitab sucinya masing-masing dengan format penekanan pada prinsip persamaan (principle of identity), bukannya dengan penekanan pada aspek perbedaan apalagi pertentangan (principle of negation).

Jauh sebelumnya, dua tokoh pemikir sekaligus sufi muslim, yaitu Imam al-Gazali (w.1111M) yang menulis kitab monumental: Ihhya Ulum al-Din (Menghidupkan kembali Ilmu-ilmu Agama, dan Ibnu Arabi (w.1148M) yang juga diberi gelar "Muhy al-Din" (Baca; Muhyiddin), artinya penghidup ajaran agama. Keduanya memberika kontribusi penting dalam bentuk epistimologi dan metodologi pembacaan Al-Quran dan hadis sebagai sumber ajaran Islam.

Keduanya menganjurkan perlunya membaca ulang Kitab Suci dengan menekankan bukan semata-mata melalui pendekatan logika (hushuli) tetapi juga melalui pendekatan emosional-spiritual (hushuri). Intinya adalah bagaimana Kitab Suci bisa menyemangati manusia menjalani kehidupannya pada satu sisih, dan di sisih lain nilai-nilai ketuhanan di dalam dirinya tetap actual.

Pembacaan ulang kitab suci dengan didorong sikap positif sudah barang tentu juga dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang notabene dipadati oleh umat beragama yang memegang teguh agamanya masing-masing. Posisi dan peran umat beragama di Indonesia tak dapat diragukan lagi sebagai suatu kekuatan luar biasa.

Posisi ini harus diarahkan untuk menjadi kekuatan daya penyatu (centripetal), bukannya sebagai kekuatan daya pemecah-belah (centrifugal). Jika posisi agama tampil sebagai faktor sentrifugal maka keutuhan integrasi bangsa sulit tergoyahkan oleh kekuatan dari manapun. Akan tetapi manakala agama tampil sebagai faktor sentrifugal maka disintegrasi bangsa akan sulit dihindarkan.

Di sinilah urgensi pendidikan dan wawasan kebangsaan masuk di dalam pembinaan keagamaan dalam satu sisi, dan pada sisi lain, pembinaan wawasan kebangsaan juga perlu menggunakan bahasa agama. Pengalaman the founding father, tokoh-tokohkebangkitan nasional 100 tahun lalu menjadikan kekuatan agama di dalam menyemangati perjuangan mereka, tanpa harus terganggu oleh perbedaan dan atribut agama masing-masing. Dengan kata lain, pengalaman sudah menunjukkan bahwa perbedaan agama, etnik, bahasa dan adat istiadat dapat diramu menjadi kekuatan pemikat dan pemersatu bangsa yang luar biasa, yang kemudian melahirkan proklamasi kemerdekaan NKRI. [bersambung]

Sumber: mozaik.inilah.com

Berbagi di jaringan sosial:

Komentar - 0